Di lingkungan kampus Muhammadiyah Tasikmalaya sendiri terdapat 7 sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, Mts, MA, SMA, sampai dengan SMK Muhammadiyah. Sejak pemerintah "berencana" membunuh sekolah-sekolah menengah atas swasta dengan gencarnya program SMK, SMA Muhammadiyah 1 Tasikmalaya kebagian imbasnya. Jumlah siswa yang terus menurun setiap tahun menyebabkan rasa bangga dan rasa memiliki mulai terkikis.
Selama tiga tahun program pemerintah tersebut berjalan, selama itu pula jumlah siswa SMA Muhammadiyah 1 Tasikmalaya terus berkurang. Namun, alhamdulillah, kita masih bertahan diatas satu kelas. Sedangkan disaat yang sama, sekolah-sekolah menengah atas yang lain malah terpuruk dengan jumlah siswa yang hanya mampu mencapai belasan orang setiap tahunnya. Untuk tahun ajaran 2009/2010 ini, SMA Muhammadiyah 1 Tasikmalaya mampu mendapatkan murid sebanyak 76 orang, dan dibagi ke dalam 3 kelas "kurus". Turun drastis dari tahun sebelumnya yang mencapai 96 orang, dan dua tahun sebelumnya yang mencapai 120 orang.
Sadar atau tidak sadar, pemerintah sebenarnya sedang menciptakan pengangguran baru. Lama kelamaan, guru-guru non PNS kemungkinan besar akan dirasionalisasikan karena kelebihan personal dalam mengajar.
Orang luar akan menganggap guru DPK (guru PNS yang dipekerjakan di sekolah swasta) tidak perlu khawatir, karena jumlah murid 1 orang pun, misalnya, gaji mereka tidak akan dikurangi. Anggapan itu salah. Betul, gaji memang tidak akan berkurang, tapi kesempatan mengajar pasti berkurang. Apalagi bagi guru-guru yang sudah disertifikasi terdapat kewajiban mengajar selama 24 jam pelajaran. Mengajar "bercabang" ke sekolah lainpun tidak mungkin, karena sekolah lain mengalami hal yang sama. Mutasi ke sekolah negeri pun begitu. Semua kepala sekolah negeri merasa guru-gurunya sudah penuh. Lantas apa yang harus dilakukan? Wallohu'alam, semoga program SMK ini hanya sebagai uji coba pemerintahan SBY-JK yang bersifat sementara.
Muhammadiyah - SMA - SMA Muhammadiyah - SMA Muhammadiyah 1 - SMA Muhammadiyah 1 Kota Tasikmalaya - SMA Muhammadiyah 1 Tasikmalaya - Tasikmalaya - pendidikan - guru - 24 jam pelajaran - SBY - JK
Kegelisahan Hatiku
Label: opini
SBY Menang Pendidikan Kalah
.jpg)
Pemilu Presiden (Pilpres) tahun 2009 telah menghasilkan pemenang mutlak. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Budiono telah berhasil mengantongi sekitar 60% suara. Meskipun perhitungan resmi belum dilakukan, tapi beberapa lembaga survei yang melaksanakan quick count telah menunjukkan hal tersebut. SBY menang mutlak sebesar 60an% (berdasarkan quick count).
Kemenangan SBY memang sudah dapat ditebak. Bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana kebijakan dia dalam hal pendidikan kedepan. Akankah SBY tetap mempertahankan sistem pendidikan sekarang yang menciptakan generasi pekerja/generasi buruh di masa yang akan datang dengan mengutamakan SMK?
Dana pendidikan memang sangat besar, jauh lebih besar dari dana pertahanan republik ini. Tapi soba perhatikan:
1. TK dibiarkan sesuai mekanisme pasar, hampir sama dengan BHP (Badan Hukum Pendidikan) untuk Universitas, sehingga cenderung mahal.
2. SD dan SMP digratiskan (meskipun pada kenyataannya, beberapa diantaranya masih memungut uang dari siswa dengan berbagai alasan).
3. SMK diutamakan dan dipromosikan gencar, sedangkan SMA dimarjinalkan.
4. Universitas dimahalkan dengan adanya BHP.
Dari poin di atas, pendidikan di Indonesia kedepan, hanya menciptakan lulusan SD dan SMP. Paling jauh ke SMK. Masuk ke Universitas Negeri menjadi sangat mahal, demikian pula ke Universitas swasta. Pendidikan akhirnya jadi "mentok" di titik setingkat Sekolah Menengah Atas (baca: Sekolah Menengah Kejuruan).
Sedih sekali kalau saya merenungkan hal ini. Bukankah seharusnya masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dipermudah sehingga kelak kita akan menghasilkan generasi para manager di perusahaan-perusahaan yang akan menciptakan perusahaan, bukan bekerja di perusahaan.
Label: opini
Kinerja Guru Bersertifikat

Guru sudah dimanjakan oleh pemerintah dengan adanya program sertifikasi guru. Maksudnya, bagi guru yang sudah lulus "tes" tersebut, akan diberikan gaji yang besarnya dua kali lipat dari gaji semula. Insya Alloh, minimal guru akan menerima 3 atau 4 juta per bulan apabila sudah lolos sertifikasi, sehingga guru bisa konsentrasi dalam mengajar demi memajukan pendidikan, tanpa harus ada usaha sambilan demi menutupi kekurangan dalam biaya hidup kesehariannya.
Tapi, apakah kinerja guru sudah benar? Saya melihat, beberapa guru yang sudah disertifikasi masih berorientasi konservatif atau jadul. Jarang sekali mereka yang telah lulus sertifikasi bisa mengubah kebiasaan mereka dalam sekejap demi mengejar idealisme sertifikasi. Kebiasaan yg tertanam bertahun-tahun telah melekat dan menjadi bagian dari keseharian cara mengajarnya sehingga yang ada hanyalah "status" baru sebagai guru yg telah bersertifikat, tapi kinerja masih konservatif. Berikut ini adalah contohnya:
1. Dalam Menentukan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) KKM adalah nilai minimal yang harus diperoleh siswa dalam setiap mata pelajaran. Setiap mata pelajaran menentukan KKM dengan berbedoman pada unsur-unsur: kompleksitas, intake siswa, dan sarana pendukung. Setiap mata pelajaran bisa berbeda, meskipun masih dalam satu rumpun. Pandangan yang sangat salah tentang KKM adalah "semakin besar KKM, semakin bagus". Inilah yang memicu "nilai semu" yang diterima siswa. Siswa yang seharusnya mendapatkan nilai 55, misalnya, tapi karena KKM ditentukan dengan asal-asalan, maka kemampuan siswa pun semu.
2. Dalam Memberi Nilai Raport Dalam memberikan nilai raport, kebanyakan masih menggunakan rumus kurikulum lama, atau lebih banyak lagi (maaf kalau salah) ditebak! Siswa yang kenal/ ganteng/ cantik, mendapat nilai lebih dan kadangkala tidak pas untuknya. Seharusnya, pinilaian raport dalam KTSP adalah dijumlahkan dan dibagi rata masing-masing seluruh nilai kognitif dan praktek yang ada. Misalnya selama satu semester, seluruh siswa telah melakukan praktek selama 6 kali, maka dijumlahkan seluruh nilainya dan dirata-ratakan. Kalau ada siswa yang tidak praktek, tetap dirata-ratakan dan dibagi seluruh jumlah praktek (6 kali, misalnya).
3. Dalam Mengajar
Guru konservatif mengajar masih menggunakan cara lama, metode ceramah. Bahkan lebih sering dengan metode mencatat. Untuk membuat siswa diam dan sibuk, guru menyuruh mencatat hampir selama jam pelajarannya. Memang, saat akhir akan diterangkan, tapi, menerangkan dengan waktu yang terbatas tidaklah cukup. Guru seharusnya menggunakan berbagai variasi mengajar, kalau perlu menggunakan media pembelajaran seperti OHP/in focus.
Dan masih banyak lagi.
Setelah disertifikasi, kinerja guru seharusnya semakin membaik, bukan malah tetap dan hanya menginginkan uangnya saja. Apalagi saat beberapa tahun kedepan, kita akan mendapatkan generasi buruh karena pendidikan saat ini mengandalkan pada SMK.
Label: opini
Sumpah Dokter: Sebuah Renungan
Saya bersumpah bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan.
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian atau Kedudukan Sosial.
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.
Teman sejawat akan saya perlakukan sebagai saudara kandung.
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.
Sekalipun diancam saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan.
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Dokter
Sumpah atau janji adalah tradisi yg diucapkan seseorang ketika akan memangku suatu jabatan yg dianggap terhormat. Tentara, Dokter, dan PNS lain, dianggap sebagai jabatan yg terhormat, makanya mereka mengucapkan ikrar/janji/sumpah atau apapun namanya demi kehormatan profesi mereka.
Meskipun dengan cara agak berbeda, sebenarnya tradisi pengucapan sumpah bukan hanya di kalangan calon pejabat, tapi juga untuk organisasi-organisasi tertentu. Anggota mafia, gank, sekte-sekte keagamaan,dll. biasa bersumpah dan biasany dibarengi dengan semacam ritual tertentu.
Terus, salahkan apabila mereka menyalahi sumpah jabatan mereka? Apa gunanya sumpah bila ternyata harus diingkari? Ini pertanyaan saya tentang perilaku dokter, maaf kalau menyinggung komunitas terhormat itu. Tapi kenyataan memang membuktikan. Dokter-dokter bukan lagi berbakti pada masyarakat, tapi sudah menjurus pada materi.
Coba lihat salah satu tulisan menarik di salah satu blog dokter berikut:
http://www.andaka.com/citra-dokter-indonesia-di-mata-blogger.php
Seorang dokter yg mengakui tentang imej yg dilakukan kebanyakan dokter lain.
Di kota tempat tinggal penulis, Tasikmalaya, sedikit sekali dokter yg benar-benar berbakti bagi pasiennya, terutama bagi masyarakat kurang mampu. Dokter-dokter disini pada umumnya bertarif mahal, sekali periksa Rp.50 ribu, dan langsung dikit-dikit dianjurkan ke Rumah Sakti (su'udzonnya mungkin buat melanjutkan pemasukan,maaf).
Coba lihat jam praktek pribadi mereka, lebih banyak dibandingkan praktek di Rumah Sakit. Kalau alasannya buat "balik modal" biaya kuliah, kenapa masih menerapkan biaya tinggi ketika sudah kaya?
Pengalaman saya, ketika memeriksakan anak saya, dokter tidak bisa dihubungi ketika hari Minggu. Pada kemana mereka ketika masyarakat membutuhkan? Oke kalau memerlukan "saat istirahat", tapi bagaimana dengan poun ke-5 dari sumpahnya "Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan"? Kalau tidak mau menerima resiko, kenapa masih mau jadi dokter? Apakah hanya karena ingin cepat kaya? Wallohu'alam..
Label: opini
FS vs FB
Sekilas tentang Friendster dan Facebook
Sebenarnya situs perkenalan bukan hanya Friendster (FS) dan Facebook (FB). Namun saya akan mempersempit topik ke dua situs ini karena, menurut beberapa pengamat, kedua situs inilah yg paling diminati oleh para penggemar dunia maya.
FS booming pada sekitar tahun 2002 dulu. Situs perkenalan ini mulai menjadi trend tentang cara sosialisasi online dan menjadi cirihas dari masyarakat modern. Jonathan Abrams adalah seorang anak muda pendiri FS. Dengan idenya tersebut dia kini sudah menjadi miliader dengan keuntungan jutaan dolar.
Salah satu saingan FS, FB, didirikan oleh seorang anak muda juga. Namanya Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard berumur 23 tahun. Keuntungan miliaran dolar dengan cepat dia raih karena FB menawarkan fitur-fitur badu yang tidak ada di FS.
Pengalaman Penulis
Saya diperkenalkan pada FS oleh salah seorang murid sejak awal tahun 2009. Mula-mula sempat bingung, tapi lama kelamaan menjadi terbiasa dan senang juga mengenal berbagai karakter orang melalui FS. Banyak pengalaman,mulai dari koment yg tidak sedap (karena setting komentar tidak disensor) sampai dengan kiriman spam melalui HTML. Ada-ada saja emang kerjaan orang iseng.
Lagi-lagi disindir murid. Sedang senang-senangnya FSan, murid yang sama mengajak gabung ke FB, katanya "FS sudah tidak zamannya lagi,pak!". Benarkah? FB dianggap gaul dan lebih "zamannya" karena nongolnya sekarang. Coba kalau FB keluarnya dulu,gak lama setelah FS, pasti akan terjadi persaingan yg "sehat" antara keduanya. Setelah saya gabung di FB juga dan saya rasakan sendiri persamaan dan perbedaan keduanya, saya dapat menarik kesimpulan bahwa FB adalah new version dari FS.
Setelah sebulan penuh melakukan pengamatan,saya bisa simpulkan nilai plus dari masing-masing situs pertemanan itu:
Friendster:
1. Loading lebih cepat dari Facebook,meskipun dengan layout paling "rame" sekalipun!
2. Dapat ditambahkan layout yg beragam sesuai dengan "jiwa" masing-masing.
3. Banyak pihak ke-3 yang sudah bekerjasama dengan FS,sehingga dapat menambah variasi tampilan.
4. Bagi anak muda, FS lebih terasa sreg karena lebih bebas berekspresi. Bandingkan dengan FB yang pada umumnya adalah reunian para teman jadul sehingga sebagaian user menjadi jaim.
5. Bisa menambahkan gambar/photo/ emoticon dalam komentar yang kita posting.
6. Bisa melihat "tamu" yang berkunjung ke FS kita. Sehingga seringkali kita menambah teman lewat cara ini.
Facebook:
1. Tampilannya lebih sederhana,cocok untuk kalangan yang sudah berumur.
2. Tidak akan tiba-tiba dikejutkan oleh suara musik, seperti di beberapa layout FS.
3. Ada fasilitas chat (meskipun kebanyakan jarang sekali digunakan).
4. Gampang mengirim surat ke teman-teman,karena photonya akan tetap kelihatan. Coba bikin surat ke beberapa orang di FS, yang muncul hanya nama-namanya saja.
5. Kirim komentar lebih gampang,karena ada "Notification" di kanan bawah layar yang memberitahu kita (meskipun kadang-kadang sulit juga menemukan postingan yang sudah agak lama dan seringkali mengganggu kita juga ketika orang yang tidak kita kenal memposting komentar di teman kita, dan pemberitahuannya sampai ke kita).
6. Kalau kesal,tidak ada komentar, kita bisa ikutan kuis atau memainkan permainan yang ada, dan hasilnya bisa diposting di "wall" kita untuk memancing teman memberi komentar.
7. Mudah mencari teman,karena jarang sekali yang menggunakan nama samaran (tujuannya mungkin untuk menemukan teman-teman jadul).
8. Bagi para pengusaha, iklan terlihat lebih jelas.
Intinya FS dan FB tidak jauh berbeda. Dalam beberapa hal, FB memang lebih advanced, meskipun saya menganggap itu adalah "perbaikan" dari FS.
Sekarang saya melihat FS sedang dalam tahap perbaikan. Saya sudah mengikuti polling tentang itu di FS. Dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dalam polling tersebut kelihatannya dalam jangka waktu yang tidak lama lagi kita akan melihat wajah FS yang baru, yang bisa menyaingi kecanggihan adiknya, FB. Kita lihat saja.
Label: opini , pengalaman
Saran untuk KPU

Pemilihan Umum Legislatif sudah dilaksanakan pada hari Kamis, 9 April 2009 kemarin. Sebuah pemilu dengan banyak perubahan aturan-aturan yang baru. Yang paling mencolok adalah perubahan cara memilih, dari mencoblos, menjadi mencontreng. Banyak kekurangan memang, terutama kemungkinan mudahnya timbul konflik antara KPPS dengan saksi di TPS karena misinterpretasi tentang suara sah atau tidak sah. Namun, "contreng" ini menunjukkan bahwa kita lebih educated, lebih terdidik dalam memberikan suara.
Untuk Pemilu kali ini, saya kebagian menjadi anggota KPPS. Bangga sekali, namun tugas yang harus diemban terasa begitu berat. Mulai pendataan pemilih sampai dengan penghitungan suara yang sangat menyita waktu. Namun alhamdulillah, semuanya bisa terlaksana berkata kerjasama yang baik antar semua pihak, terutama kerjasama dengan masyarakat sekitar.
Ada beberapa kritikan dari saya untuk KPU, supaya Pemilu kedepan bisa berjalan lebih baik dan lebih mudah.
Pertama:
Batas maksimum Daftar Pemilih Tetap (DPT) di setiap TPS
Seharusnya KPU bisa mengubah aturan tentang DPT maksimum dalam setiap TPS berdasarkan pengalaman/simulasi yang telah dilaksanakan oleh KPU itu sendiri. Memilih caleg dan membuka lembaran yang begitu besar sangat menyita waktu. Dalam simulasi, setiap pemilih rata-rata menghabiskan waktunya sekitar 10 menit. Belum lagi pemilih yang sudah berumur.
Aturan pelaksanaan Pemilu dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 12.00 waktu setempat, terasa sangat berat untuk jumlah DPT yang banyak. Di Tempat Pemungutan Suara (TPS) saya, jumlah DPTnya mencapai 420 orang! Ketika Pemilu berlangsung sampai dengan pukul 12.00, kurang lebih baru sekitar 300 orang yang telah melaksanakan hak pilihnya. Kalau dipaksakan semua ikut memilih, bisa-bisa sampai pukul 5 sore. Belum lagi proses perhitungan suara. Busyet deh. Kami bukan robot, kami juga perlu istirahat.
Akhirnya, kami batasi sampai dengan pukul 14.00, seadanya (beberapa orang yang sudah menyimpan undangan akhirnya gugur, tidak bisa ikut memilih, karena ketika dipanggil mereka pulang dulu ke rumah). Itulah yang menyebabkan banyaknya suara kosong. Dan saya lihat, di semua TPS pun begitu. Bahkan ada TPS yang "saklek". Jam 12.00 langsung ditutup!
Jadi, siapa yang salah? Para pemilihkah yang (maaf) begitu bodoh dalam proses menggunakan hak pilihnya, atau beban DPT yang terlalu banyak? Dari cerita di atas bisa disimpulkan bahwa DPT perlu direvisi jumlah maksimumnya. Saran saya: 1 TPS untuk setiap RT, atau maksimum 300 DPT. Pertanyaan selanjutnya: maukah pemerintah mengeluarkan biaya lagi untuk oprasional TPS-TPS baru?
Kedua:
Sanksi pada partai-partai yang tidak lolos "electoral treshold"
Kenapa Pemilu cenderung diikuti banyak partai politik (parpol)? Alasan "HAM dan kebebasan berpendapat" pasti menjadi ujung tombak mereka dalam membuat partai. Begitu "mudah"nya parpol didirikan, demi sebuah ketenaran atau keuntungan pribadi yang diperoleh para pengurus parpol (setiap parpol memperoleh bantuan dana dari pemerintah lho). Toh gak perlu usaha keras, yang penting bisa menggembosi suara parpol asal, dan mendapatkan bantuan dana, begitu ungkapan sinis seorang teman. Benar juga, lihat saja, banyak suara parpol yang kosong, bahkan untuk beberapa tempat tidak ada calegnya sama sekali! Kalau begitu, kenapa harus dipaksakan membuat parpol, pasti ada "sesuatunya" kan?
Tujuan mulia untuk "mensejahterakan rakyat atau sebuah perubahan"hanya menjadi kedok. Setelah Pemilu selesai dan parpol mereka tidak lolos electoral treshold (batas minimum perolehan suara 2%), bisa mengubah nama parpol lagi untuk pemilu berikutnya. Simple sekali bukan? Apa efeknya buat rakyat? Rakyak SEMAKIN BINGUNG dengan banyaknya pilihan yang ada!
Untuk itu saya setuju apabila para pengurus parpol yang tidak dapat melewati batas 2% itu diberi sanksi. Sanksi yang ada bisa berupa pengembalian dana kampanye dari pemerintah ditambah bunga 300%! Apabila parpol tidak sanggup, para pendirinya dihukum penjara saja.
Aturan tersebut dibuat bukan untuk mengekang kebebasan berpendapat, tapi untuk membuat para pendiri parpol asal-asalan menjadi jera sehingga mau bekerja keras demi menarik simpati rakyat. Anda setuju?
Label: opini
Kevakuman
Tak terasa sudah sekitar satu bulan lamanya blogku ini dibiarkan sepi begitu saja. Bukannya sudah tidak ingat, bukannya sudah tidak ada ide, tapi rasa malas begitu berat aku melekat dalam jiwaku.
Aku sangat suka menulis, namun kemarin2 rasanya berat sekali untuk mengungkapkan pikiran-pikiranku disini.
Mohon maaf pada Anda semua, para pemerhati Blogku ini, mudah-mudahan Anda tidak meninggalkanku.
Insya Allah, mulai sekarang akan giat lagi menulis.
Label: opini
Say NO to Valentine Day!

Sejarah hari Valentine
1. Perayaan Kesuburan (Zaman Romawi Kuno)
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.
2. Hari Raya Gereja
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda:
a. seorang pastur di Roma
b. seorang uskup Interamna
c. seorang martir di provinsi Romawi Africa.
Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Banyak legenda yang mengelilingi mereka sebenarnya diciptakan pada akhir Abad Pertengahan di Inggris dan Perancis, di mana pesta perayaan pada tanggal 14 Februari diasosiasikan dengan cinta. Sentimen semacam ini tidak ada sama sekali di kitab Legenda Emas Jacobus de Voragine, yang disusun pada kurang lebih tahun 1260 dan merupakan salah satu buku yang paling banyak dibaca pada akhir Abad Pertengahan. Buku ini sangatlah lengkap dalam memberi informasi setiap santo dan santa untuk setiap hari pada tahun kalender gerejawi sebagai ilham homili setiap misa.
Hari raya valentine ini kemudian dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu. Paroki (Bahasa Inggris: parish) adalah suatu tipe pembagian administratif gereja.
3. Hari Valentine di Negara2 non Barat
Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidak dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih”(White Day) muncul. Pada tanggal 14 Maret, pria yang sudah mendapat hadiah pada hari Valentine diharapkan mengembalikan hadiah yang mereka terima dengan jumlah dan besar yang sama pada wanita yang memberinya. Sangat membebani sekali, bukan?
Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah "Hari Raya Anak Perempuan" (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.
Dan, sangat memalukan, di Indonesia yang mayoritas Muslim, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini cenderung menjadi budaya populer dan konsumtif karena perayaan valentine lebih banyak ditujukan sebagai ajakan pembelian barang-barang yang terkait dengan valentine seperti kotak coklat, perhiasan dan boneka.
Herannya, berbagai media (stasium TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine dengan hari kasih sayang, padahal di lingkungan gereja sendiri sudah dilarang, masa kita yang Muslim malah merayakannya? Apakah ini bentuk pemurtadan secara pelan2 dan terus menerus? Sanggupkah Anda sebagai muslim memberikan penjelasan pada mereka supaya mereka insyaf?
Label: opini
Arogansi Kekuasaan
Label: opini
Liburan Kemana?
Memang kita kadang-kadang agak "syirik" dan menyesal kalau mendengar cerita teman bahwa mereka habis pergi ke suatu tempat. Menarik sekali. Sementara kita hanya termanggu di rumah. Hanya nonton TV, main ke plasa, main ke rumah teman dekat atau saudara, sepertinya "membosankan" dibanding apa yang teman lakukan. Kalo budget sedikit mo ngapain? Yang penting kita bisa merasakan nikmatnya liburan, nikmatnya lepas dari rutinitas sekolah, nikmatnya tidak ngerjain PR dan tugas-tugas yang begitu menumpuk. Tul, kan? Jadi, mending nikmati aj hidup ini...
Label: opini
Guru Zaman Sekarang
Label: opini




